Sudah empat bulan berlalu dari Agustus, terakhir BEM Unpad melakukan Rapat Triwulan (kalau tidak salah di Lembang. Yah di Lembang ^^). Berarti namanya bukan lagi “Rapat triwulan”, melainkan “rapat Tetrawulan”.

Yah, apalah artinya sebuah nama. Intinya, apa yang sudah saya, kita, dan BEM Unpad perbuat selama empat bulan ke belakang. Kemajuan apa yang sudah saya dan departemen saya tercinta, Komunikasi dan Informasi (Kominfo), telah berikan.

Dibandingkan dengan departemen lain, mungkin departemen yang saya pimpin ini tidak terlalu terlihat kerjanya karena bagi kami yang penting bekerja tidak perlu mengumbar. Halah, bercanda. Namun, departemen kami diadakan memang tidak untuk menarsiskan diri, namun lebih menarsiskan BEM Unpad secara keseluruhan. Dengan media-media yang kami terbitkan, mudah-mudahan sudah dapat membuat Kabinet Kebangkitan ini lebih ”bangkit” dari tiga bulan sebelum empat bulan ini.

Dalam progress report Kominfo ini, mudah-mudahan yang membaca dapat memahaminya. Pertama, saya akan menjabarkan kondisi staf Kominfo selama empat bulan ini. Setelah itu, baru kemajuan yang telah dibuat Kominfo selama empat bulan ini.

K O N D I S I S T A F

Terhitung 1 Desember 2008, selain ada kejadian di Unpad yaitu penggratisan angkot yang menuju kampus, Kominfo juga memiliki momen penting. Mellyza Novisari, yang beratnya beberapa kilogram itu, mengajukan untuk mengundurkan diri dari kominfo, dan lebih luasnya mengundurkan diri dari BEM Unpad.

Bukan karena dia tidak betah di Kominfo karena, saya kasih tahu saja, tidak mungkin tidak ada yang betah di kominfo jika pemimpin dan staf-stafnya begitu keren dan tidak tertandingi. Alasan yang paling logis pengunduran diri Melz—begitu panggilannya—dikarenakan masalah pribadi yang ingin lebih fokus terhadap perkuliahan dan sebagainya. Saya, sebagai menteri, tidak bisa menahannya. Karena memang tidak mungkin menahan manusia yang besar itu. Bukan, maksud saya tidak mungkin memaksakan kehendak agar dia tetap berada di sisi saya sampai akhir kepengurusan di BEM Unpad Februari nanti (insyaallah).

Jadi, saya sekarang sudah melepasnya seperti melepas burung dari sangkar emas. Biarkan dia terbang bebas. Kalaupun dia merindukan animo BEM Unpad, Melz akan kembali untuk sekadar menyapa dan menyapu lantai.

Untuk kondisi staf yang lainnya, alhamdulillah dalam kondisi yang meresahkan. Saat ini, kami sedang dilanda wabah yang bernama “banyak amanah” di mana-mana. Amanah saya itu sebagai menteri itu harus terganggu karena saya punya kerjaan yang lain yaitu mengatur gigi ini agar tidak terlalu kotor. Aisha Shaidra harus berbagi peran di perkuliahan, HIMA, dan BEM Unpad. Sedangkan dirjen saya yang mengurusi Penerbitan dan Propaganda, Ali Akbar Mutiara, seringkali sibuk di luar seperti mengurusi pekerjaan BEM Bandung Raya, ikut andil dalam Ospek Jurusan Manajemen komunikasi, lalu ikut juga ke pernikahan kakaknya yang tidak bisa ditunda. Selain itu, staf saya kebanyakan punya kesibukan di luar BEM Unpad, yaitu perkuliahan yang semakin memadat saja yang membuat orang sulit untuk berkreativitas.

Tadinya, di Kominfo akan ada yang diputihkan (mana bisa yah, emang BEM Unpad mau beli cat untuk memutihkan orang gitu? Aduh, saya juga berpikir panjang itu), namanya Rijal Asy’ari. Namun, saya menolak keras. Nanti, siapa lagi lelaki yang tampan di Kominfo jikalau Rijal dikeluarkan, hah? Lalu, nanti siapa di BEM Unpad yang punya Restora La Ponyo kalau Rijal dikeluarkan, hah? Tidak ada yang bisa menjamin mengapa Rijal harus diputihkan. Oleh karena itu, Rijal tidak jadi diputihkan karena BEM Unpad juga malas untuk membeli cat yang begitu banyak untuk memutihkan orang.

Lalu, bagaimana dengan kondisi saya? Jika ada yang menanyakan kondisi, saya selalu menjawab tidak baik. Yah, biasa. Permasalahan yang sering menimpa saya semakin membuat saya menjadi kusut dan kusam, tidak lagi sesehat dulu. Memang, dunia ini kejam kawan. Mengapa tidak dibuat saja pohon uang yang bisa membuah uang setiap harinya? Pernah Menteri PO yang bernama Vasco Da Gama itu mengatakan kepada saya, “Menu makan hari ini apa teh?”. Lalu saya hanya bisa diam dan akhirnya dia menjawab sendiri, “Oh, Cuma awug awug ya teh? Ya ampun, kasihann…”. Seperti itulah percakapan saya dengan Pede—begitulah panggilannya—jika bertemu.

apa arti seurieus tanpa Candil? kayanya roh yang bergentayangan di seurieus bakal hilang deh.

coba, siapa lagi yang akan meneriakkan “Rocker juga Manusia” selain Judika “rayuan Gombal” yang menyanyikannya dengan bagus saat di Indonesian Idol? siapa lagi kalau bukan penyanyi aslinya.

duh, Candil itu mau pergi ke mana yah? Nggak kasihan apa dengan kondisi musik Indonesia yang begitu ‘kering’ ?

yah, sekali lagi itu urusan dia sebagai manusia yang pernah jadi rocker di jaman keemasan Seurieus dulu.

tapi, kenapa gituh kang Candil? berantem yah? Lah, itu mah urusan dia.

saya mengisi blog ini

December 18, 2008

saya mau tulis di blog ini karena bingung ingin menumpahkan pikiran saya di mana.

takut muntah karena tumpah, jadi saya tuangin aja di sini.

Hello world!

December 18, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!